Hai. Jadi aku mau cerita sih disini. Di SMA, aku punya satu sosok yang aku kagumi. Dia dari kelas dan bahkan jurusan yang berbeda. Kelas kita terjarak oleh lapangan. How do i know him?. Jadi ceritanya pas kelas 11, aku baru bergabung di sebuah organisasi sekolah, dan aku masuk di divisi yang sama dengan dia. Sejak itu lah jadi banyak kegiatan bareng, sering rapat, dan makin tau sifatnya dia walaupun gak sepenuhnya sih. Selama masa kepengurusan, ada nilai lebih dari dia yang bikin aku kagum, aku suka bagaimana cara dia memimpin rapat, aku suka ketika dia lagi baca qur'an, aku suka ketika dia bisa santai tapi tetap bertangung jawab sama perannya, aku suka pas dia lagi main voli, aku suka ngeliat dia serius pas main catur, aku suka ketika dia berhasil mencetak gol ke gawang saat classmeeting. Aku selalu mengambil kesempatan untuk memandang dia setidaknya hanya ingin tahu apa yang sedang dia lakukan. Aku juga sering memotretnya dengan cara diam-diam tentunya. Bahkan ketika...
Untuk Pite di usia 22 tahun Halo? Apa kabar? Lagi ngalamin kesulitan apa hari ini? Ini adalah diri kamu satu tahun yang lalu. Aku ingin berpesan Terima kasih sudah bertahan sejauh ini Selalu ingat untuk siapa kamu berusaha, dan bagaimana kamu memulai Jangan pernah kamu merasa sendiri karena pasti ada orang lain yang masih setia mendukungmu Jadi, kamu udah punya pacar belum? pasti belum ya.. Gapapa, hidup gak harus terus tentang pacar Kamu masih punya sahabat yang bisa kamu ajak bicara about everything Kalau misalnya kamu udah punya, selamat ya! Semoga laki-laki itu merasa beruntung karena bisa dapatin kamu Kamu adalah perempuan paling baik dari yang semua orang kira Oh iya, gimana kuliah? capek jadi mahasiswa semester tua? Hang on ya, you're doing a good job. Sebentar lagi selesai kok. Jangan pernah nyerah sama apa yang udah kamu mulai Pite umur 22 masih suka bangun siang? sholat bolong-bolong? Yakin gam...
Aku pernah melihat sebuah kalimat, katanya ayahku bisa menjadi ayah yang baik tapi bukan suami yang baik. Entah apa aku setuju dengan kalimat tersebut. Terkadang aku merasa ayahku pahlawanku. Setelah mamah meninggal, papa lah yang menjadi tumpuan. Di usia ku yang masih sekolah, tentu saja orang tua menjadi sosok yang dilibatkan oleh sekolah. Datang rapat, mengambilkan rapot, komite, dan masih banyak lagi kegiatan di sekolah yang melibatkan orang tua. Papa aku dengan berat hati sering mengambil cuti karena harus ke sekolah. Bahkan ketika mendaftar sekolah pun beliau selalu mendampingi. Datang menemani pendaftaran, hingga mengantar ke sekolah setiap pagi. Tentu saja aku merasa senang dan bangga. Tetapi dibalik semua itu, manusia pasti melakukan kesalahan dan memiliki kekurangan bukan? ya, dibalik semua pengorbanan beliau tentu saja ada hal tidak ku sukai. Berhutang dan boros. Ketika sadar bahwa ekonomi kami tidak baik-baik saja, seharusnya kami berhemat. Tetapi hal itu tidak b...
Komentar
Posting Komentar