Aku pernah melihat sebuah kalimat, katanya ayahku bisa menjadi ayah yang baik tapi bukan suami yang baik. Entah apa aku setuju dengan kalimat tersebut. 

Terkadang aku merasa ayahku pahlawanku. Setelah mamah meninggal, papa lah yang menjadi tumpuan. Di usia ku yang masih sekolah, tentu saja orang tua menjadi sosok yang dilibatkan oleh sekolah. Datang rapat, mengambilkan rapot, komite, dan masih banyak lagi kegiatan di sekolah yang melibatkan orang tua. Papa aku dengan berat hati sering mengambil cuti karena harus ke sekolah. Bahkan ketika mendaftar sekolah pun beliau selalu mendampingi. Datang menemani pendaftaran, hingga mengantar ke sekolah setiap pagi. Tentu saja aku merasa senang dan bangga. Tetapi dibalik semua itu, manusia pasti melakukan kesalahan dan memiliki kekurangan bukan? 

ya, dibalik semua pengorbanan beliau tentu saja ada hal tidak ku sukai. Berhutang dan boros. Ketika sadar bahwa ekonomi kami tidak baik-baik saja, seharusnya kami berhemat. Tetapi hal itu tidak bisa jika dilakukan oleh satu orang saja. Setiap hari mendapat teror ditagih utang, aku merasa smua ini terjadi karena aku? 

Aku sering mengeluh jika aku mengalami sesuatu. mungkin karena hal ini lah papa menjadi iba. Dia selalu mencoba untuk membuatku nyaman untuk melakukan kehidupanku sebagai seorang siswi hingga mahasiswa. Aku selalu merasa senang ketika papa tiba-tiba pulang dengan membawa sekotak handphone baru, laptop baru, speaker baru. Aku lupa untuk memikirkan dari mana uangnya? bagaimana dengan keperluan yang lainnya?. Sepertinya memang ini salahku. 

Aku sering menghayal, bagaimana jika aku benar-benar pergi dan menghilang? apakah beban papa akan berkurang? apakah hutangnya akan dapat dilunasi? 

jika menunggu hingga aku dewasa dan menjadi kerja akan sangat lama. 

Saat ini aku hanya bisa menyalahkan diriku dan berpura pura untuk menjalani kehidupan senormal mungkin. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

high school crush?