high school crush?
Hai. Jadi aku mau cerita sih disini.
Di SMA, aku punya satu sosok yang aku kagumi. Dia dari kelas dan bahkan jurusan yang berbeda. Kelas kita terjarak oleh lapangan. How do i know him?. Jadi ceritanya pas kelas 11, aku baru bergabung di sebuah organisasi sekolah, dan aku masuk di divisi yang sama dengan dia. Sejak itu lah jadi banyak kegiatan bareng, sering rapat, dan makin tau sifatnya dia walaupun gak sepenuhnya sih.
Selama masa kepengurusan, ada nilai lebih dari dia yang bikin aku kagum, aku suka bagaimana cara dia memimpin rapat, aku suka ketika dia lagi baca qur'an, aku suka ketika dia bisa santai tapi tetap bertangung jawab sama perannya, aku suka pas dia lagi main voli, aku suka ngeliat dia serius pas main catur, aku suka ketika dia berhasil mencetak gol ke gawang saat classmeeting. Aku selalu mengambil kesempatan untuk memandang dia setidaknya hanya ingin tahu apa yang sedang dia lakukan. Aku juga sering memotretnya dengan cara diam-diam tentunya. Bahkan ketika aku berulang tahun di usia ke 17, dia mengirimkan ucapannya. Meski hanya sebuah kalimat singkat tetapi itu membuat dampak yang besar terhadap perasaanku karena aku memang tidak berharap bahwa dia akan mengirimkan ucapan.
Bahkan ketika wisuda SMA, aku memberanikan diri untuk dipotret bersama dia. Gugup? tentu saja. Aku sudah menjadi pengagumnya selam hampir 2 tahun dan baru kali ini aku berani berinteraksi walaupun hanya sekadar foto. Setelah acara selesai, aku mengirim foto tersebut melalui line messenger, dan tidak lupa aku mengutarakan perasaan kagumku secara tersirat tentunya karena aku masih belum berani untuk memberitahunya.
Bertahun berlalu, aku terkadang masih membuka sosial media hanya untuk mencari tahu apa kesibukkannya saat ini. fyi, ketika SMA, dia belum memiliki instagram, aku hanya bisa melihat melalui akun teman-temannya. Ketika masuk kuliah, aku sangat senang dia punya akun pribadi, karena aku berharap dia akan mulai membagikan kesehariannya, atau setidaknya aku tau bahwa dia masih hidup. Sebenarnya aku sudah tidak terlalu menyukainya, karena kita sudah tidak berada pada satu lingkungan yang sama. Namun, ada beberapa waktu dimana aku ingin tahu apa yang sedang dia lakukan, dan sesekali aku melihat kembali foto-foto yang aku ambil secara diam-diam ketika di sekolah. Aku selalu berpikir, apa jadinya jika dia tahu bahwa aku menyukainya? apakah dia kan menjauh? ilfeel? atau malah mulai membuka diri untuk mengenal aku?
Akhirnya di tahun 2022 setelah aku menjadi pengagumnya selama kurang lebih 4 tahun, aku memutuskan untuk benar-benar memberitahunya mengenai rasaku. Diawali dengan mencoba menghubunginya melalui instagram untuk melihat respon awal darinya. Fyi, aku coba menggunakan akun alter, karena sejujurnya aku masih belum memiliki keberanian 100% untuk ini, namun aku selalu berpikir bahwa tidak ada salahnya dengan mengungkapkan perasaan. Setelah aku memberitahunya, dia bertanya mengenai identitasku. Akhirnya aku memberitahunya di keesokkan hari.
Aku menghubunginya melalui line messenger, dan yaa ternyata respon dia sangat baik. Dia tidak menunjukkan tanda bahwa aku mengganggunya dengan perasaan ini. Dan yang membuat aku terkejut adalah dia menyadari bahwa aku telah mengungkapkan perasaanku ketika wisuda, padahal aku tidak berpikir bhawa dia akan sadar akan hal itu. Setidaknya aku lega dan merasa senang karena berarti dia tidak membenciku.
Dia mungkin tidak menyangka bagaimana aku bisa tetap mengaguminya selama kurang lebih 4 tahun bahkan ketika bertahun-tahun tidak bertemu dan berinteraksi sama sekali, akupun tidak mengerti. Namun yang pasti, ketika aku menyukai seseorang, aku akan terus menyukainya sampai orang tersebut memberitahuku untuk berhenti.
Jika kalian penasaran mengenai kelanjutannya dan apakah kami bersama? jawabannya adalah tidak. Setelah aku melakukan pengakuan, dia tidak bertanya lebih jauh dan meunjukkan tanda bahwa dia ingin membuka diri. Tetapi, dia bersikap baik dengan menanyakan kegiatan dan kabarku selama berkuliah. Percakapan itu hanya terjadi dalam satu hari, setalah tidak ada topik kami kembali tidak berinteraksi.
Untuk kamu, terima kasih tidak menunjukkan rasa benci sedikit pun mengenai aku yang menjadi pengagummu. Terima kasih telah menerima pengakuan ini meskipun tidak berbalas. It's okay, i'm happy with it, setidaknya kamu sudah tau apa yang aku rasakan. Aku masih belum tahu kapan aku akan berhenti mengagumimu, mungkin sampai aku menemukan teman hidup? aku tidak tahu. Yang jelas, aku senang bisa mengenalmu. Terima kasih, af.
Komentar
Posting Komentar